Cover Buku Pintar Menstruasi

Cover Buku Pintar Menstruasi

Kebanyakan remaja puteri sering mengalami kram sewaktu menstruasi. Rasa sakit di perut bagian bawah, kadang meluas ke pinggul, punggung bagian bawah atau paha. Bahkan ada yang merasa mual, muntah, atau diare. Sedikit kram perut pada hari pertama atau kedua haid yang terjadi merupakan hal yang biasa. Lebih dari separuh perempuan mengalaminya. Namun sekitar 10% perempuan mengalami rasa sakit yang demikian hebat hingga perlu minum obat untuk dapat mengatasi rasa sakit tersebut (Anita 2008).

Bila tidak ada kelainan ginekologis, rasa nyeri tersebut disebut dismenorea primer. Hal ini disebabkan karena tingginya kadar prostaglandin (zat yang membuat otot-otot rahim berkontraksi dan melepaskan dindingnya). Meskipun sakit, dismenorea primer tidak berbahaya. Rasa nyeri ini biasanya lenyap pada pertengahan usia 20-an atau setelah melahirkan. Rasa nyeri yang disebabkan oleh gangguan ginekologis disebut dismenorea sekunder. Hal ini bisa disebabkan oleh tumor fibroid (suatu tumor jinak pada dinding rahim), penyakit yang ditularkan akibat hubungan seksual, endometriosis, penyakit radang panggul, adanya kista atau tumor pada indung telur (Anita 2008).

Nyeri haid dapat diatasi dengan beberapa cara. Cara pertama yang dapat dilakukan adalah meminum obat untuk menghilangkan rasa nyeri. Cara yang kedua adalah berendam dengan air hangat. Namun apabaila terjadi nyeri haid yang sangat atau disertai demam, merasa mual yang tidak biasa, muntah atau nyeri perut, atau jika tetap nyeri setelah hari ketiga haid segera periksakan kondisi tersebut kepada dokter (Anita 2008).

Sindrom pramenstruasi (PMS)

PMS adalah kumpulan gejala fisik, psikologis, dan emosi yang terkait dengan siklus menstruasi wanita. PMS memang kumpulan gejala akibat perubahan hormonal yang berhubungan dengan siklus saat ovulasi (pelepasan sel telur dari ovarium) dan haid, sindrom itu akan menghilang pada saat menstruasi dimulai sampai beberapa hari setelah selesai haid (Elham 2009).

Menurut Elham (2009), penyebab munculnya sindrom ini memang belum jelas, beberapa teori menyebutkan antara lain karena faktor hormoral yakni ketidak keseimbangan antara hormon estrogen dan progesteron.

Teori lain menyatakan karena hormon estrogen yang berlebihan. Kemungkinan lain, itu berhubungan dengan gangguan perasaan, faktor kejiwaan, masalah sosial, atau fungsi serotonin yang dialami penderita. Sindrom ini biasanya lebih mudah terjadi pada wanita ysng lebih peka terhadap perubahan hormoral dalam siklus haid. Akan tetapi ada beberapa faktor yang meningkatkan fisiko terjadinya PMS antara lain:

1. Wanita yang pernah melahirkan (PMS semakin berat setelah melahirkan beberapa anak, terutama bila pernah mengalami kehamilan dengan komplikasi seperti foksimia).

2. Status perkawinan (wanita yang sudah menikah lebih banyak mengalami PMS dibandingkan yang belum).

3. Usia (PMS semakin sering dan mengganggu dengan bertambahnya usia, terutama antara usia 30-35).

4. Stress (faktor stress memperberat gangguan PMS).

5.    Diet (faktor kebiasaan makan seperti tinggi gula, garam, teh, kopi, coklat, minuman bersoda, produk susu, makanan olahan, mempererat gejala PMS).

6.    Kekurangan zat-zat gizi seperti kurang vitamin B (terutama B6), vitamin E, vitamin C, magresium, zat besi, seng, mangan, asam lemak unoleat.

7. Kebiasaan merokok dan minum alkohol juga dapat mempererat gejala PMS.

8. Kegiatan fisik (kurang berolah raga dan aktivitas fisik menyebabkan semakin beratnya PMS).

PMS itu mempunyai beberapa macam tipe, menurut Abraham (2000) dalam Elham (2009), ahli kandungan dan kebidanan dari fakultas kedokteran UCLA, AS.Pembagian tersebut berdasrkan gejalanya, yaitu PMS tipe A, H, C, dan D. 80% gangguan PMS termasuk tipe A. penderita tipe H sekitar 60%, PMS C 40% dan PMS D 20%. Kadang-kadang seorang wanita mengalami gejala gabungan, misalnya tipe A dan D secara bersamaan (Abraham 2000 dalam Elham 2009).

PMS tipe A (anxiety) ditandai dengan gejala seperti rasa cemas, sensitive, saraf tegang, perasaan lebih. Bahkan beberapa wanita mengalami depresi ringan sampai sedang saat sebelum mendapatkan haid. Gejala ini timbul akibat ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesteron, hormon estrogen terlalu tinggi dibandingkan dengan hormon progesterone. Penderita PMS A sebaiknya banyak mengkonsumsi makanan berserat dan mengurangi atau membatasi minum kopi (Abraham 2000 dalam Elham 2009).

PMS tipe H (chyperhedration) memiliki gejala edema (pembengkakan), perut kembung, nyeri pada buah dada, pembengkakan tangan dan kaki, peningkatan berat badan sebelum haid. Pembengkakan itu terjadi akibat berkumpulnya air pada jaringan diluar sel (ekstrasel) karena tingginya asupan garam / gula pada diet penderita. Untuk mencegah terjadinya gejala ini penderita dianjurkan mengurangi asupan garam dan gula pada diet serta membatasi minum sehari-hari (Abraham 2000 dalam Elham 2009).

PMS tipe C (craving) ditandai dengan rasa lapar ingin mengkonsumsi makanan yang manis-manis (biasanya coklat) dan karbohidrat sederhana (biasanya gula). Pada umumnya sekitar 20 menit setelah menyantap gula dalam jumlah banyak, timbul gejala hipogukemia seperti kelelahan, jantung berdebar, pusing kepala yang terkadang sampai pingsan. Hiplogikemia timbul karena pengeluaran hormon insulin dalam tubuh meningkat. Rasa ingin menyantap makanan manis dapat disebabkan oleh stress. Tingginya garam dalam diet makanan, tidak terpenuhinya asam lemak esensial (omega 6) atau kurangnya magnesium (Abraham 2000 dalam Elham 2009).

PMS tipe D (depression) ditandai dengan gejala rasa depresi, ingin menangis, lemah, gangguan tidur, pelupa bingung, sulit dalam mengucapkan kata-kata (verbalisasi) bahkan kadang-kadang muncul rasa ingin bunuh diri atau mencoba bunuh diri (Abraham 2000 dalam Elham 2009).

Daftar pustaka

Anita. 2008. Remaja puteri dan siklus menstruasi. www.medicastore.com. (17 September 2010).

Elham. 2009. Gambaran pengetahuan remaja puteri tentang menstruasi di Desa Gamel Kecamatan Plered Kabupaten Cirebon [Skripsi]. Akademi Keperawatan Muhammadiyah Cirebon.